Ruangan itu kelihatan gelap. Hanya ada satu lampu 5 Watt yang menerangi tepat di bawah sebuah meja bundar. Tiga orang pemuda setengah baya mengelilingi meja itu. Sepertinya mereka tengah merencanakan sesuatu. “Kita harus cepat bergerak!”, kata salah seorang dari mereka. “Saya setuju, Jendral! Jika kita lengah sedikit saja maka semua perjuangan kita akan sia-sia.” Braaak! Tiba-tiba seorang lagi menghantam meja bundar itu dengan keras. “Kita harus menunggu keputusan dari markas! Kalian ingat kan apa yang terjadi di Kalimantan Utara! Itu semua karena buru-buru!”, ucapnya dengan sedikit kesal. “Aku hanya tidak ingin kejadian itu terjadi lagi.”

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dan sekonyong-konyong dua orang berbaju putih masuk dengan santai. “Siapa diantara kalian yang berkhianat, bangsat!”. Seorang pemuda di meja itu bediri dan memaki kedua temannya. Salah seorang dari mereka terlihat menunduk ketakutan. Dua orang berbaju putih itu lalu mendekati mereka dan berkata “Hei, kalian kok belum tidur! Ini kan sudah jamnya. Ayo sekarang semua masuk ke kamar. Jangan lupa minum obat dulu ya!” Tiga pemuda itu lalu berhamburan keluar. Dasar orang gilak!